Tuesday, December 05, 2006

Pematung Menafsir Kehidupan Urban: Karya Seni Tidak Lahir dari Ruang Kosong

Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam katalog pameran
Oleh: A.Sudjud Dartanto

Paling tidak ini yang terlihat pada karya-karya seni patung enam pematung dalam pameran ini. Karya seni mereka merupakan refleksi kehidupan urban. Kali ini kita menyaksikan betapa eksistensi objek-objeknya hadir secara konkrit dengan material yang terolah. Kita dapat melihat eskperimen bahan, pengolahan bentuk dan personalitas mereka yang terlihat lewat jejak artistik pada karya-karya mereka.

Kota dan desa. Dikotomi ini merupakan pembedaaan yang gamblang untuk memisahkan secara geografis, antar mana yang kota dan yang desa. Kita mengenal kota sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi dan politik, sedangkan, desa memiliki pula sistem ekonomi dan politik yang tidak sekompleks kota. Perbedaan sistem ekonomi dan politik ini membentuk pula sistem sosial dan budaya kota dan desa. Pelbagai sarana dan prasarana fisik yang supra tumbuh di kota. Sementara desa, umumnya masih memperlihatkan wajah fisiknya yang tradisional. Walaupun perbedaan ini bisa kita pisahkan secara konseptual, tetap saja apa yang kita lihat dalam kehidupan kota dan di desa berbeda, seperti yang disampaikan Marco dalam katalog ini. Ada ruang sosial dan ranah budaya yang tidak sepenuhnya dalam definisi formal desa dan kota ― sebuah area abu-abu.

Desa dan kota dalam konteks Indonesia memperlihatkan kehidupan modern dan tradisional yang berbaur. Terjadi serapan nilai-nilai modern cepat atau lambat. Sementara di sisi lain, kita berupaya mempertahankan dan mengunyah ulang makna dan nilai tradisional. Lebih-lebih pada era globalisasi sekarang, terjadi pelbagai campuran unik ― yang menghadirkan pula pelbagai kontradiksi, pelbagai negosiasi sosial dan negosiasi budaya di tingkat lapangan ― identitas pun kabur. Bentuk material dan praktik sosial pun menjadi terbuka untuk pelbagai kemungkinan. Dan sekarang, tidak menjadi soal lagi, mana desa dan mana kota. Dalam ‘pasar tanda’ ini, siapapun bisa menggunakan, meminjam, membuang bahkan ‘mengaduknya’ dalam praktik sosial, budaya dan secara kreatif, terkhusus pada ranah seni.

Para perupa ini merupakan pendatang dan tinggal di kota Yogyakarta dan Jakarta. Di mana para perupa ini hidup dalam lingkungan kota yang ditandai adanya pusat perbelanjaan, hiburan, perdagangan dan industri. Teguh S. Priyono, Hedi Haryanto dan Pramono Pinunggul, para perupa yang mengenyam pendidikan dari Institut Seni Indonesia ini tinggal pada lanskap kota Yogyakarta yang masih memperlihatkan praksis sosial dan aksentuasi pelbagai simbol tradisional ― sebagai sistem kehidupan tradisional di beberapa kampung dan desa sekitar. Dan Benny Ronald Tahelele, Yani Mariani Sastranegara dan Awan Parulian Simatupang, para perupa yang menempuh studi di Institut Kesenian Jakarta ini, tinggal di Jakarta, sebuah kota metropolit dan muara aktivitas ekonomi dan politik.

Dalam bahasa sosiolog, Janet Wolf, seni niscaya merupakan produk sosial. Seniman sebagai anggota masyarakat adalah agensi yang aktif dan terlibat langsung maupun tidak langsung secara sosiologis. Dalam hal ini pengertian seniman yang dianggap khusuk dengan dunia privatnya sendiri tidaklah sepenuhnya benar. Tulisan ini menyepakati bahwa seniman juga agensi sosial yang memiliki pelbagai peran dan tindakan sosial ― yang tidak semata-mata berurusan dengan kreasi artistik. Artinya, seniman tidak hanya bertujuan mengolah karya seni yang berfokus pada bentuk semata. Tetapi, tetap terkait dengan pengalaman non-estetis lainnya. Seperti wawasan mereka tentang modernitas dalam kota, tradisionalisme dan pelbagai praktik sosial yang direfleksikan oleh perupa ini ― lewat pelbagai pernyataan (Statement) mereka secara material dalam genre seni patung.

Pameran ini merupakan statement estetis dari perupa, sebagai penghuni dua kota ini. Sebuah karya dari pemahaman mereka akan negasi kota-desa, di mana enam pematung ini hidup dan tinggal didalamnya. Sebab, selain terjadi kultur lisan, tulis dan interaksi sosial dalam kehidupan kota, berlangsung pula pergulatan estetis ― antara karya sebagai komentar sosial yang juga dinyatakan secara artistik. Dan dalam kacamata lain pula, karya mereka merupakan produk pengetahuan dari tindakan refleksi ― yang tentunya, mereka tidak selalu harus bertindak sebagai peneliti sosial misalnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial, peristiwa dan aksi estetis perupa ini merupakan pula statement yang begitu saja mengalir secara ekspresif dan personal sebagai respon.

Di lain hal ― untuk pameran ini, saya tertarik untuk mempercakapkan perihal ‘jarak’ kala menikmati karya mereka. Bahwa, karya mereka merupakan refleksi ‘pengalaman dekat’. Dalam situasi ‘jarak dekat’, karya-karya mereka hadir secara simbolis atau dalam definisi lain: metaforis. Dan ini berbeda dengan karya verbal yang menohok pada persoalan ― seperti halnya karya-karya realisme sosial (potret kehidupan sosial yang digambar dengan sikap keberpihakan yang definitif). Karya-karya mereka dihadirkan dalam permenungan yang berada dalam visi pribadi. Mereka menyimbolkan apa yang menjadi opini mereka tentang kehidupan urban. Secara teknis, karya mereka hadir dikreasi lewat pengolahan bentuk, yang sebetulnya mengandung prinsip Crafmanship, juga eksperimen bahan secara eksploratif.

Lihatlah pada karya-karya seni patung mereka. Pramono misalnya, menampilkan kontradiksi simbol produk budaya kota dan desa, dalam karyanya berjudul pada “Kontradiksi” (Fiber Glass, 2004). Pada karya Pramono yang lain, ”Mengapa Aku Cinta Kamu” (Fiber Glass, Logam, Kayu, Kain Kasur, 2004), menghadirkan kontradiksi produk budaya berupa ikon hamburger dan keris. Sementara Teguh menyuguhkan bentuk-bentuk sensual dengan figurasi anatomi primitif dengan tubuh manusia dan hewan pada “Carnivora Milenium” (Kayu Jati, Akrilik, 2001). Yang menarik pula, Teguh pada “Artificial Life” (Bronze, Kayu, 2003) menampilkan seonggok ranting logam ― sebuah metafor kehidupan modern yang kian artifisial. Hedi pada “Untitle” (Fiber Glass, Crhome, Tanaman, 2004) membuat simbol kaki yang niscaya diberi roda dibawahnya.

Dari karya Hedi ini, kita dapat merelasikan makna ini pada fenomena tempo kehidupan modern yang kian cepat sekarang ini. Kemudian Awan pada “Show Must Go On” menampilkan simbol perahu yang terlihat kuno, tegas ― kita merasakan citra artistik yang kuat pada karya ini. Yani, menampilkan instalasi objek-objek pada “They Walk Away” (Akar pohon, Batu, Air, 2004). Perupa ini di kenal dekat dengan material alam yang kemudian di olah kembali secara personal menjadi metafor. Yani memaknai batu secara khusus, ia mengkonsiderasi batu pada konteks sehari-hari. Batu menampati konteks ruangnya sendiri-sendiri, pada karya Yani, batupun niscaya memiliki kaki. Dan Beny memperlihatkan rakitan objek yang sudah tersedia, dengan aksen tubuh dengan tangan terlentang. Karya Benny hadir dengan cynical tentang subyek manusia modern yang seolah menjadi cyborg pada judul “Siluet Apocalypse Metropolit” (Tanah Liat Bakar, Mixed Media).

Materi karya mereka terbuat dari pelbagai media, logam, kayu dan lain-lain. Yang kemudian di bentuk, di cetak, di cor, dan di akhiri dengan pelbagai aksentuasi ― inilah statement artistik mereka. Enam perupa ini mengolah topik yang berfokus pada kehidupan urban. Pramono yang memainkan kontradiksi, Hedi yang tertarik pada gesekan kultur tradisional dan modern. Teguh yang menawarkan simbol-simbol dari pelbagai asbsurditas. Awan yang menghadirkan ikon-ikon non-urban. Yani yang bermain di wilayah petanda, dan Benny yang menampilkan ekses negatif kehidupan urban.

Karya-karya mereka tampil dengan rupa simbolis dan ikonis. Menarik untuk mengamati simbol-simbol pada karya mereka. Sebab, barangkali kita tidak bersepakat pada simbol-simbol yang mereka hadirkan, tapi inilah ‘sisi estetis’ yang kontroversial itu, bahwa simbol bersifat pribadi. Simbol tidak sepenuhnya sesuai dengan fungsi suatu material dalam realitas. Simbol bisa jadi bengkok atau terlepas sama sekali dengan fungsi material yang ada ― menjadi makna simbolis. Sementara ikon-ikon pada karya mereka mudah kita nikmati sebab ikon kaki adalah sebagaimana kaki pada kehidupan sehari-sehari. Begitu pula perahu dan hamburger. Ikon-ikon yang mereka hadirkan memang tersedia dalam kenyataan material yang ada. Di sisi lain teknik mengolah simbol dan ikon ini dikerjakan dengan keahlian mengolah dan merakit objek-objeknya.

Pameran seni rupa tiga dimensional ini merupakan sebuah ritus unik. Seni patung yang terlihat pada pameran ini masih setia dengan kehadiran objek yang konkrit ― dan bukanlah karya yang terlampau mengutamakan ide abstrak, namun justru menghadirkan antitesisnya yaitu peristiwa konkrit berupa eksposisi gagasan-gagasan bentuk. Kita barangkali tidak perlu bertanya lagi mengenai kreativitas bentuk, tapi yang kemudian kita biarkan adalah aliran pesan dari pameran ini, yaitu apa yang direfleksikan dari karya-karya patung ini.

Perkembangan seni patung akhir-akhir ini menggairahkan sebab selain dengan didirikannya organisasi formal API (Asosiasi Pematung Indonesia), juga pelbagai pameran seni patung lainnya. Bagi saya, pameran ini merupakan eksposisi penting. Dalam kehidupan modern sekarang ini, kita membutuhkan refleksi yang tidak harus tampil vulgar namun kita membutuhkan metafor-metafor yang memainkan fungsinya sebagai pernyataan kritis dan reflektif. Dengan mengamati dan memberi perhatian pada eksposi karya-karya trimatra, lambat laun kita akan mengenali prestasi artistik yang telah dicapai oleh para pematung kita, dan ini layak di catat untuk perkembangan dimensi artistik dalam ranah seni patung Indonesia.

2 comments:

Anonymous said...

NSU - 4ever, 5210 - rulez
mudila
mudila

Anonymous said...

Amiable brief and this fill someone in on helped me alot in my college assignement. Say thank you you for your information.