Tuesday, December 05, 2006

Objek pada Ranah Kriya Seni dan Perlunya Infrastruktur

Oleh: A.Sudjud Dartanto

Karya seni yang mengeksplorasi basis objek logam, keramik, kayu, tekstil, kulit dan logam kian menunjukkan potensi ekplorasi artistiknya. Misalnya yang terlihat pada pameran tugas akhir mahasiswa Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI), tanggal 1 sampai 6 Februari 2004 lalu di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pameran itu memperlihatkan keberanian dan kecenderungan menarik. Di tengah kancah global, potensi itu selayaknya ditindaklanjuti dengan membangun infrastukrur kriya seni yang memadai.

Tulisan ini merupakan catatan selintas tentang keberadaan objek (benda fisik) pada ranah kriya seni berikut infrastrukturnya. Kriya seni yang dimaksud disini adalah eksposisi objek yang memiliki nilai fungsional dan berwatak massal (mass product) dan objek sebagai wahana ekplorasi teknik dan gagasan yang bersifat individual (art work). Dua pengertian sederhana ini di ambil sebagai jalan untuk lebih melihat objek karya kriya seni sebagai bentuk material. Pengertian objek disini bisa dibentangkan dari benda apapun, entah itu tanah liat, logam, kulit, benang, kayu−pada beberapa contoh perkembangan kriya seni di Australia, Inggris dan Amerika misalnya, objek seperti gelas dan plastik pun adalah niscaya untuk di eksplorasi potensi artistiknya dan digunakan sebagai media representasi gagasan seniman. Pembacaan melalui objek di sini di ambil untuk mendapat cara pandang alternatif mengenai keberadaan objek di pelbagai genre seni visual. Dengan demikian pembacaan inipun bisa meliputi pada bentuk objek tiga dimensional dan dua dimensional pada ranah kriya seni, seni patung pun dan seni tiga dimensional lainnya.

Misalnya pada pameran Tugas Akhir Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI), walaupun komposisi tata letak eskposisi karya kriya seni disitu masih terlihat sesak, kita masih sempat melihat bagaimana kecenderungan gaya artistik objek-objek pada pameran tersebut. Secara mendasar ada tiga hal objek yang terlihat, yaitu objek yang memiliki intensi fungsional dan niscaya untuk direproduksi secara massal (biasanya untuk kepentingan industri). Ini terlihat pada karya-karya pada pameran TA yang siap untuk direproduksi. Kedua, objek yang digunakan sebagai media representasi ide estetik dan pernyataan seniman (artist statement), objek ini menunjukkan kecenderungan pada olahan teknik pembuatan yang orisinil dan bersifat terbatas dan hadir dengan gaya artistik yang personal. Pada contoh seniman muda kriya seperti Clepret dan Pandu Mahendra dapat kita lihat.

Mereka memperlihatkan kecenderungan untuk melibatkan media lainnya alias mix-media. Seringkali eksposi objek ini lebih ekspresif dan eksperimental. Dan terakhir adalah objek yang berorientasi pada desain. Jenis objek ini memperhitungkan komposisi warna, bentuk, garis dan bidang yang harmonis dan teratur. Walaupun tidak banyak dipraktikan di Indonesia, namun keberadaan jenis objek ini eksis terjadi pada beberapa fenomena objek disain di luar negeri. Semisal di Qraft Queensland, sebuah lembaga swasta craft di Brisbane yang mengkhususkan dirinya sebagai lembaga yang memberi ruang bagi seniman, desainer dengan karya berupa objek yang memiliki karakter disain yang kental. Di Indonesia, sebagai contoh karya Aris Suwando dan Riris dalam pameran itu memiliki rupa dengan kecenderungan desain.

Objek pada ranah kriya seni ini menjadi cara pandang alternatif bagi sejumlah pengamat dan pengelola ruang seni (art space). Sebagai perspektif bandingan, di Australia (Sydney), ada lembaga bernama Objek Gallery yang mengadvokasi pelbagai penciptaan objek seni dengan pelbagai kecenderungannya. Tidak hanya itu, dipublikasikan pula majalah bernama Objek yang berisikan reportase, wawancara, apresiasi hingga kritik seni yang mengupas perihal objek seni. Di Indonesia, pada contoh kasus kreasi objek dari seniman Yogyakarta, Bandung dan jakarta memperlihatkan kecenderungan akan kian kompleksnya visualisasi objek. Tentunya ini menuntut cara pembacaan yang idealnya mengikuti gejala kecenderungan kreativitas gaya artistik dan gagasan abstrak di balik objek ini.

Di lain pihak kita menghadapi problem kategoris letak objek ini pada pelbaga genre seni visual. Terkhusus antara kriya seni, seni patung dan seni kontemporer. Misalnya, seniman yang menghadirkan objek minimalis, menghilangkan ornamentasi dan dekorasi dan lebih menghadirkan bentuk formal−kehadirannya mungkin dianggap akan tepat pada ranah seni patung yang memiliki genre patung minimalis. Atau sebaliknya, kahadiran objek dari ranah seni patung yang menghasilkan objek−yang justru menujukkan intensitas eksplorasi teknik bahan, kehadirannya ini dianggap−dan semestinya (mengikuti kategori akademis), berada pada genre kriya kayu pada ranah kriya seni. Satu lagi−bahkan, pada perkembangan seni kontemporer (contemporary art), ada gubahan objek yang mengekplorasi ide mitologi Jawa dengan menghadirkan objek yang kuat dengan ekplorasi bahan dan stilisasi perakitannya.

Jenis objek seperti ini boleh jadi mengundang kegamangan untuk diletakkan pada ranah seni patung atau kriya seni (mengikuti kategori akademis). Kesimpangsiuran kategorisasi genre ini membingungkan, namun substansinya cukup gamblang terlihat yaitu pada materialitasnya. Baik seni patung, kriya seni dan seni kontemporer sebetulnya sama-sama menggunakan objek sebagai unsur rupanya. Perihal perbedaan kategorisasi di atas tentu memiliki dinamika wacananya sendiri, yang tentunya tidak menjadi perlu untuk terjadinya gap kategoris satu dengan lainnya pada tingkat praksis, misalnya pada bingkai event pameran seni visual, satu dengan lainnya. Tentu, perdebatan kategoris itu perlu di letakkan pada diskursus kritik wacana yang memerlukan eksplanasi diskursif untuk tidak sekedar memunculkan wacana tulis yang bersifat simbolis.

Beberapa objek pada pameran Tugas Akhir Kriya Seni ini menunjukkan kecenderungan arah dan bentuk yang menarik untuk diapresiasi. Namun kita perlu mendengar beberapa kegelisahan yang muncul dari praktisi kriya ini, misalnya pada amat jarangnya ruang seni yang bisa digunakan oleh praktisi kriya ini sebagai ruang untuk menampikan ide bentuk artistik dan gagasan konseptual objek. Umumnya ruang seni di Indonesia adalah ruang yang memprioritaskan seni lukis sebagai kecenderungan utamanya. Tentu saja ini menjadi problem bagi lulusan jurusan kriya seni pada tiap tahunnya, seniman dan peminat kriya seni yang ingin melanjutkan karir individual kesenimannya. Di sisi lain, dinamika kritik dan apresiasi kriya seni tidaklah semarak dibanding dengan dinamika kritik seni untuk ranah seni lukis, seni patung, seni grafis (ranah ini mulai mendapat perhatian dan dukungan serius beberapa tahun terakhir ini) dan ranah seni kontemporer.

Semestinya kita bisa membangun wacana ini, salah satunya dengan menerbitkan jurnal kriya seni yang berisikan tidak hanya kritik atau apresiasi ranah seni kriya namun juga berisi pengetahuan eksplorasi bahan dan pengetahuan teknis lainnya. Sebagai pembanding, di luar Indonesia, jurnal dan majalah craft hadir dengan pelbagai watak editorial dan perwajahan visual yang menarik, ada yang benar-benar mengkhususnya sebagai majalahnya seni keramik dan seni gelas misalnya. Tapi ada pula yang khusus menampilan tulisan yang mengupas kaitan antara fenomena kriya seni dengan perkembangan teknologi atau kriya dengan wawasan pengetahuan yang bersifat ekstra estetik−seperti isu lingkungan hidup, isu sosial, fenomena budaya yang ditinjau dari pelbagai sudut pandang teoritis dan pendekatan alternatif.

Selain itu minimnya seniman kriya (leader artist) dan budaya tulis dari ranah kriya adalah problem lain. Bila kita bandingkan dengan jumlah pelukis di Indonesia, seniman kriya teramat sedikit, termasuk pula langkanya penulis kriya yang memiliki modal pengetahuan teknis bahan-dan tidak cukup hanya sekedar konsep. Kita hanya bisa berkesempatan untuk melihat eksposisi kriya seni ini pada beberapa kali eksposisinya di pelbagai kota seperti pameran keramik, pameran tekstil−dan yang seringkali teramat jarang muncul dalam ranah kriya seni adalah kulit, kayu, dan logam.

Salah satu cara untuk melihat indikasi perkembangan kriya seni adalah dengan melihat terobosan yang dilakukan jurusan Kriya ISI dengan melakukan eksposisi pameran tugas akhir di Benteng Vredeburg. Sebab harus diakui jarang sekali ada eksposisi karya kriya seni. Bandingkan dengan seni lukis yang eksposisinya gencar. Dengan demikian layaklah bila lewat pameran tugas akhir ini menjadi satu indikator perkembangan karya kriya seni. Tentu ada harapan semoga rintisan awal pameran tersebut menjadi titik menyegarkan dalam membangun infrastruktur wacana dan fisik yang lebih baik, atau paling tidak sekedar−mengimajinasikan visi ranah kriya seni kedepan secara jelas dan bisa kompetitif dengan praktik craft negara-negara maju.

Perihal infrastuktur wacana dan fisik ranah kriya seni ini idealnya melibatkan peran lembaga pendidikan, pemerintah, dan pihak swasta yang diharapkan aktif untuk melihat potensi kriya seni dewasa ini. Di beberapa negara, pemerintah memiliki Craft Council yang berfungsi memfasilitasi potensi kreatif para seniman kriya. Dukungan finansial pemerintah diberikan kepada ruang-ruang seni craft untuk terus memfasilitasi seniman kriya. Berikut juga menjembatani antar ruang seni, seniman dan publik dengan cara membangun kegiatan workshop, seminar, diskusi dan artist talk. Sehingga dengan demikian gap pengetahuan antara pihak seniman, ruang seni (art space) dan publiknya tidak terlampau jauh. Beberapa even eksposisi craft art dunia juga aktif diselenggarakan seperti adanya bienal ceramic, atau bienal craft. Sayangnya keikutsertaan seniman kriya dari Indonesia juga tidak mendapat ekspos media yang signifikan. Bisa disimpulkan bahwa kriya seni perlu membangun basis infrastuktur fisiknya seperti ruang-ruang seni, seperti galeri dan bahkan ke depan perlu membangun museum kriya seni. Lembaga-lembaga yang memfasilitasi perkembangan pengetahuan teknis kriya itu sendiri idealnya sudah harus spesifik dan bersifat accesible dan informatif terhadap publik.

Pada tingkat yang strategis peran pemerintah juga bisa mengambil peran, sebab ini disadari penting mengingat pada beberapa kasus eksistensi kriya seni juga tergantuung dari good will pemerintah, ini penting sebab diakui pemerintah adalah representasi formal dalam tugasnya menjalin negosiasi formal dengan lembaga formal dengan negara lain berbasis government to goverment. Selain itu peranan lembaga swasta sebagai mitra bahkan kompetitor pun juga penting kehadirannya. Sebagai mitra, pemerintah dengan badan industri selayaknya memberi dukungan kepada gagasan kreatif seniman kriya dalam bentuk finansial dan pengembangan organisasi untuk pengembangan wawasan teknis dan wawasan wacana. Sementara inisiatif lembaga swasta seni visual secara inisiatif terus berupaya mencari jalan alternatif dalam meretas pelbagai gap pengetahuan yang terjadi. Pihak swasta lain yaitu pecinta seni (kolektor) juga diharapkan untuk turut melihat potensi kriya seni ini.

Pada sisi lain, telaah objek pada ranah kriya seni juga bisa di usulkan akan terjadi pada dua cara, cara pertama, dengan cara membangun apreasiasi dan kritik terhadap teknik dan pencapain artistik yang dihasilkan oleh seniman kriya, arah kedua adalah dengan melakukan telaah gagasan yang melatari kreasi objek. Di sini diharapkan bisa menjadi sarana terbukanya pembicaraan mengenai objek seni pada ranah kriya seni ditinjau melalui pendekatan interdisipliner. kajian ini menjadi penting dan dibutuhkan khususnya pada hasil karya-karya seniman kriya yang tidak semata-mata berorientasi pada ide artistik dan massal namun juga pada isu-isu yang bersifat ekstra estetik.

Harus ada kemajuan berarti dari ranah kriya seni ini untuk membangun infrastuktur fisik dan wacana. Pada tahun-tahun sebelumnya tajuk wacana kriya seringkali jatuh pada debat etimilogis definisi kriya seni yang masih awet hingga kini, debat eksistensi posisi kriya seni dalam konstelasi seni rupa Indonesia. Sebenarnya tuntutan kedepan bisa lebih dari itu. Kita perlu memperhatikan fakta mahasiswa kriya seni, seniman kriya dan masyarakat membutuhkan jembatan antar wawasan pengetahuan, ruang seni, lembaga seni dengan objek yang mereka buat. Tulisan ini diakui sebuah usulan ideal, apakah pada prakisnya telah terjadi infrastuktur yang diharapkan diatas? Mungkin masih jauh. Yang terjadi adalah adanya ‘infrastuktur organik’, sebuah metode inisiatif-lokal yang ditandai dengan hadirnya pelbagai organisasi alternatif, kantung-kantung kesenian, efektifitas tradisi lisan, model pertukaran pengetahuan dengan cara gathuk tular yang seringkali efektif ketimbang menggunakan model yang bersifat top down. Menjamurnya diskusi-diskusi kecil sebagai perbincangan informal yang seringkali jitu sebagai sarana sosialisasi gagasan dan kegelisahan insan ranah kriya seni.

Formalisasi kriya seni pada satu sisi memang dirasa perlu pada kehidupan modern sekarang ini yang menuntut adanya kultur profesional, namun di sisi lain fakta lapangan bisa menujukkan lain, gap pengetahun dan informasi masih ada, kualitas profesionalitas seniman kriya yang idealnya adaptable dengan perubahan, ‘industri’ kritik dan apresiasi ranah kriya seni berbasis tulisan yang idealnya ditradisikan. Ketertinggalan ranah kriya seni Indonesia dibanding negara-negara maju lain dalam segi profesionalitas modern, seperti dengan negara dekat: Malaysia dan Singapura menjadi pemicu agar kriya seni bisa me-review visi kriya seni dengan dilakukakanya tatap muka bermutu antar pelbagai pihak yang berkompenten. Globalisasi dengan sendirinya menghasilkan formalitas baru yang dengan setuju atau tidak menjadi platform dalam art world .

Percepatan informasi, penggunaan bahasa Inggris yang menjadi standart komunikasi internasional, kompetisi dengan kompetitor-kompetitor luar negeri berikut sikap individu dan manajemen modern menjadi hal yang suka atau tidak merupakan tuntutan mendua bagi insan kriya seni. Artinya kita bisa bisa bersikap diam dan tidak acuh atau sebaliknya kita memilih akseleratif terhadap perubahan tanpa harus meninggalkan potensi lokal. Ini bisa menjadi salah satu tajuk wacana kriya seni yang bisa dieksplorasi lebih jauh.

Tulisan ini versi utuh dari artikel yang pernah dipublikasikan dalam harian umum Kedaulatan Rakyat.

No comments: